Friday, September 20, 2013

Pertengkaran Menjadi Persahabatan

Todo si anak pemalu,agak emosian dan baik. Itulah yang tergambar dalam dirinya saat ini. Ia baru saja lulus SD dan sekarang duduk dibangku SMP. Ia pergi ke sekolah dengan kendaraan roba dua, yaitu sepeda. Sifat SD nya sangat terlihat jelas. Saat masuk ke kelas barunya, ia masih malu-malu karena belum terlalu kenal dengan teman barunya. Ia pun segera memperkenalkan dirinya saat pelajaran bahasa inggris. Dan teman-temannya pun berkenalan satu dengan yang lainnya. Jam sudah menunjukan pukul siang. Itu adalah waktu pulang. Saat ia menuju ke parkiran sepeda, ia sangat terkejut, karena ban sepedanya sudah kempis. Ia pun panic dan kesal dalam hati. “Ahh! Ada yang ngerjain nih!” kesalnya dalam hati. Saat itu diparkiran sepeda sedang tidak ada siapa-siapa. Dan dia pun bingung harus bertanya kepada siapa. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan menuntun sepedanya, karena sepanjang jalan yang ia lewati tidak ada bengkel sepeda. Sampai dirumah, mamanya bertanya “kenapa kamu menuntun sepedamu?”. “Ini mah, sepedaku bannya kempis, sepertinya ada yang mengerjain aku!”kata todo kesal. Keesokan harinya, ia tetap naik sepeda karena bannya sudah dipompa. Sesampainya dikelas, ia pun berbincang-bincang dengan teman sebangkunya. Rasa malu itu pun lama-kelamaan hilang karena ia sudah melatih keberaniannya. Ia mulai mendapat teman-teman baru yang lumayan banyak. Waktu istirahat, ia makan bersama dengan teman-temannya. Pelajaran tak terasa hamper berakhir. Saat menuju parkiran sepeda, ia tak sengaja melihat anak kelas lain mengempisin ban sepeda Todo. Ia pun langsung menuju sepedanya dan berkata “Ohh jadi selama ini yang mengempisin ban sepedaku itu kamu!” kata todo dengan kesalnya. “Iya kenapa?” kata anak itu. “salah ku apa? Sampai-sampai kamu mengempisin ban sepedaku?” kata todo. Anak itu pun berkata “kamu anak baru kan? Menurutku, kalau ada anak yang menggunakan sepeda, harus dikerjain dulu” “ha? Mengapa begitu?” kata todo. Dan anak itu pun segera meninggalkan todo. Di perjalanan ia pun berfikir kata-kata anak itu. Dan, keesokan harinya Todo didatangi anak itu, dan anak itu berkata “Maaf aku telah mengempiskan ban sepedamu. Ini aku ganti uang mu” “sudah tidak usah, aku ihklas” kata Todo. Lalu Todo pun bertanya kepada anak itu “nama kamu siapa? Lalu alas an kamu dengan kata-kata kemarin itu apa?” anak itu menjawab “aku belum mempunyai teman, maka itu aku berbuat ulah agar memiliki teman. Nama ku Gandi. ”kata Gandi. Jawaban yang sederhana, Todo pun merasakan hal yang sama dengan Gandi saat ia baru masuk ke sekolah barunya. Todo pun menjawab ”aku mau menjadi teman mu, karena waktu pertama kali masuk ke sekolah ini, aku juga pertama kali belum memilik teman seperti mu, tetapi lama-kelamaan menjadi punya.” Kata todo. “Sungguh? Tetapi kan aku sudah jahat sama kamu” jawab Gandi. “Sudah, masalah itu tidak usah diperpanjang” kata todo. Dan akhirnya mereka pun bersahabat hingga pendidikan tinggi. Todo pun belajar dari pengalaman Gandi. Ia berterimakasih pada Gandi karena telah merubah sifatnya menjadi dewasa.


No comments:

Post a Comment