Todo si anak pemalu,agak emosian dan baik. Itulah yang tergambar dalam dirinya saat ini. Ia baru saja lulus SD dan sekarang duduk dibangku SMP. Ia pergi ke sekolah dengan kendaraan roba dua, yaitu sepeda. Sifat SD nya sangat terlihat jelas. Saat masuk ke kelas barunya, ia masih malu-malu karena belum terlalu kenal dengan teman barunya. Ia pun segera memperkenalkan dirinya saat pelajaran bahasa inggris. Dan teman-temannya pun berkenalan satu dengan yang lainnya. Jam sudah menunjukan pukul siang. Itu adalah waktu pulang. Saat ia menuju ke parkiran sepeda, ia sangat terkejut, karena ban sepedanya sudah kempis. Ia pun panic dan kesal dalam hati. “Ahh! Ada yang ngerjain nih!” kesalnya dalam hati. Saat itu diparkiran sepeda sedang tidak ada siapa-siapa. Dan dia pun bingung harus bertanya kepada siapa. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan menuntun sepedanya, karena sepanjang jalan yang ia lewati tidak ada bengkel sepeda. Sampai dirumah, mamanya bertanya “kenapa kamu menuntun sepedamu?”. “Ini mah, sepedaku bannya kempis, sepertinya ada yang mengerjain aku!”kata todo kesal. Keesokan harinya, ia tetap naik sepeda karena bannya sudah dipompa. Sesampainya dikelas, ia pun berbincang-bincang dengan teman sebangkunya. Rasa malu itu pun lama-kelamaan hilang karena ia sudah melatih keberaniannya. Ia mulai mendapat teman-teman baru yang lumayan banyak. Waktu istirahat, ia makan bersama dengan teman-temannya. Pelajaran tak terasa hamper berakhir. Saat menuju parkiran sepeda, ia tak sengaja melihat anak kelas lain mengempisin ban sepeda Todo. Ia pun langsung menuju sepedanya dan berkata “Ohh jadi selama ini yang mengempisin ban sepedaku itu kamu!” kata todo dengan kesalnya. “Iya kenapa?” kata anak itu. “salah ku apa? Sampai-sampai kamu mengempisin ban sepedaku?” kata todo. Anak itu pun berkata “kamu anak baru kan? Menurutku, kalau ada anak yang menggunakan sepeda, harus dikerjain dulu” “ha? Mengapa begitu?” kata todo. Dan anak itu pun segera meninggalkan todo. Di perjalanan ia pun berfikir kata-kata anak itu. Dan, keesokan harinya Todo didatangi anak itu, dan anak itu berkata “Maaf aku telah mengempiskan ban sepedamu. Ini aku ganti uang mu” “sudah tidak usah, aku ihklas” kata Todo. Lalu Todo pun bertanya kepada anak itu “nama kamu siapa? Lalu alas an kamu dengan kata-kata kemarin itu apa?” anak itu menjawab “aku belum mempunyai teman, maka itu aku berbuat ulah agar memiliki teman. Nama ku Gandi. ”kata Gandi. Jawaban yang sederhana, Todo pun merasakan hal yang sama dengan Gandi saat ia baru masuk ke sekolah barunya. Todo pun menjawab ”aku mau menjadi teman mu, karena waktu pertama kali masuk ke sekolah ini, aku juga pertama kali belum memilik teman seperti mu, tetapi lama-kelamaan menjadi punya.” Kata todo. “Sungguh? Tetapi kan aku sudah jahat sama kamu” jawab Gandi. “Sudah, masalah itu tidak usah diperpanjang” kata todo. Dan akhirnya mereka pun bersahabat hingga pendidikan tinggi. Todo pun belajar dari pengalaman Gandi. Ia berterimakasih pada Gandi karena telah merubah sifatnya menjadi dewasa.
Friday, September 20, 2013
Pertengkaran Menjadi Persahabatan
Saturday, September 14, 2013
Todo yang Ceroboh
Pagi hari, todo ingin
berolahraga pagi. Ia jalan-jalan dengan mengayuh sepedanya hingga berkeringat.
Ia berkeliling komplek perumahannya. Perjalanan itu ia membawa handphone. Dan
pada saat itu, ia tidak melihat bahwa didepannya ada lubang besar karena sibuk
bermain handphone. “Awas de ada lubang” kata orang disebelah kiri yang sedang
berjalan. Tetapi todo hanya menoleh kearah orang itu dan menjawab”ohh”
kata todo dalam hati. Dan… brukk, terdengar suara terjatuh. Todo jatuh dari
sepedanya dan handphonenya terpental jauh. Ia sangat malu karena dilihat oleh
orang-orang disekitarnya. Ia menyesal, mengapa ia tidak menanggapi kata orang
tadi. “Aduh, sakit” merintih todo kesakitan. Ia pun segera berdiri, dan mencari
handphonenya yang terpental. “Waduh, mana nih handphone ku” bertanya dalam
hati.
Dan
beberapa saat kemudian, ia tidak sadar bahwa handphone nya telah terjebur dalam
saluran air(got). Perasaan yang campur aduk dirasakannya saat ini. “haduhh
handphone ku! Mau ngomong apa nih sama mama, kalau handphonenya terjebur! Malah
handphone itu belum ada sebulan lagi, masih baru!” kesalnya todo. Kakinya yang
terluka, dan handphonenya yang terjebur membuat todo takut untuk pulang
kerumah. Hingga larut sore, akhirnya ia pun memberanikan diri untuk pulang.
Saat sesampainya dirumah, mamanya bertanya “mengapa hingga sore kamu baru
pulang? Dan kenapa kamu terluka seperti itu?” Tanya mama. “ini mah, todo tadi
jatuh dari sepeda, dan handphone todo terjebur dalam got” kata todo sambil
merintih. “yasudah, tidak apa-apa, masalah handphone tidak usah di permasalahkan.
Sini, mama obati lukanya” kata mama sambil tersenyum. “loh, mama kenapa tidak
marah? ” kata todo bingung. “kamu mau mama marah? Itu kan hanya handphone bisa
dibeli lagi, tetapi kamu yang luka-luka masa mama tidak khawatir?” jawab mama
dengan lembut. “iya mah, terimakasih dan maafkan todo ya mah” jawab todo.
Subscribe to:
Posts (Atom)